Sebelum Wahana Visi Indonesia hadir, hidup Floriani sulit karena tidak ada akses air bersih. Keluarganya hanya mengandalkan bak penampungan hujan yang sering kotor, terutama saat kemarau. Akibatnya, dia dan keluarganya sering sakit perut dan terkena penyakit kulit. "Air yang sedikit hanya cukup untuk minum dan memasak, sehingga saya sering ke sekolah tanpa mandi. Ayah saya, seorang petani, juga kesulitan menyiram tanaman dan memberi minum ternak", ungkap Floriani.
WVI membangun jaringan air bersih sumur bor beserta kran umum agar warga mudah mendapatkan air bersih. Selain, itu WVI juga mengadakan pelatihan tentang kebersihan dan pengelolaan air minum. Program ini melibatkan pemerintah desa dan warga melalui gotong royong, serta membentuk komite air untuk menjaga keberlanjutan.
“Setelah fasilitas tersedia, hidup keluarga kami berubah. Kami bisa mandi setiap hari, memasak dengan air bersih, dan menjaga kebersihan lingkungan. Ayah saya dapat menyiram tanaman dengan teratur sehingga hasil panen meningkat. Saya lebih sehat dan percaya diri saat berangkat sekolah", kata Floriani.
Jaringan air bersih ini dirasakan seluruh desa. Sebanyak 1.427 orang, termasuk 465 anak di desa kini bisa menikmati air bersih. Anak-anak tidak perlu berjalan jauh atau membeli air mahal. Mereka bisa belajar dan bermain tanpa terganggu masalah air. Risiko penyakit menurun, dan masyarakat lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim. “Saya sangat bersyukur. Hidup kami kini lebih sehat dan nyaman. Saya bisa belajar dengan tenang dan berusaha mewujudkan cita-cita saya menjadi seorang guru”, ungkap Floriani.
Penulis: Debora Ndapa Tondo
Oktober 2025
Penulis: Dominggus Umbu Pati
Bapa Friska sementara mengajari anak-anak saat pengisian CEW
Dominggus Bora Malo (38 tahun), atau yang lebih dikenal di kampungnya sebagai Bapa Friska, adalah seorang kepala keluarga di Weelaka, Desa Letekonda Selatan. Ia hidup bersama istri dan tiga anak perempuannya, menjalani hari-hari sebagai petani dan dipercaya sebagai ketua dewan gereja Katolik Welaka. Awalnya, ketika WVI masuk ke desanya, Bapa Friska mengaku belum paham apa itu WVI dan bagaimana cara kerjanya. “Awal pertamakali WVI masuk didesa saya, saya belum memahami apa itu WVI dan dari mana dan terus bagaimana cara kerjanya,” kenangnya. Namun, seiring waktu, ia mulai mengenal para pendamping WVI yang aktif di kampungnya, apalagi setelah anaknya terdaftar sebagai anak dampingan WVI.
Keterlibatan Bapa Friska semakin dalam ketika ia mulai mengikuti berbagai aktivitas bersama WVI. Ia melihat sendiri bagaimana WVI selalu hadir dan aktif, terutama dalam kegiatan anak-anak yang rutin diadakan hampir setiap bulan. Dari situ, ia pun diajak oleh teman-teman relawan dan orang tua anak untuk ikut pertemuan di kantor desa. “Saya mengikuti saja semua aktivitas bersama WVI. Semakin saya melihat ternyata WVI selalu ada dan aktif bersama kami, dan semakin baik bagi anak-anak dalam berkegiatan setiap bulan,” ujarnya. Dari hanya sekadar ikut, Bapa Friska akhirnya dipercaya menjadi MC dalam pertemuan relawan, sebuah pengalaman baru yang membuatnya semakin percaya diri berbicara di depan banyak orang.
Perubahan besar juga dirasakan oleh seluruh warga Weelaka, terutama soal akses air bersih. Dulu, mereka harus mengambil air dari sumur terbuka yang letaknya lebih rendah dari pemukiman, penuh risiko dan melelahkan. Bahkan, pernah terjadi kecelakaan yang memakan korban sehingga sumur itu tak lagi digunakan. “Kami mau air bersih dan merindukan sosok sesuatu yang baru tapi kami tidak tahu kepada siapa kami harus meminta bantuan... tidak mungkin ada yang datang untuk melihat kami,” kata Bapa Friska. Namun, kehadiran WVI membawa perubahan nyata. Mereka membangun sumur bor di kampung, sehingga kini air bersih mudah diakses, bahkan anak-anak bisa bermain air dengan puas.
Bapa Friska merasa WVI telah menjadi bagian dari keluarga mereka. Selain air bersih, WVI juga membantu ekonomi keluarga lewat kebun gizi dan berbagai bantuan lainnya. “Luar biasa untuk WVI menjadi bagian yang membantu kami dengan hal-hal kecil yang bermanfaat,” ungkapnya. Ia berharap WVI tetap bersama mereka, karena masih banyak kebutuhan yang harus diperjuangkan bersama. “Semoga WVI semakin jaya,” tutup Bapa Friska penuh harap.
Penulis: Frans B. Kolo
Ibu Bibiana Lere sedang mengambil air di keran umum dari sumur bor yang di bangun WVI
Bibiana Lere Kodi, seorang ibu berusia 40 tahun, tinggal di sebuah dusun terpencil bersama keluarganya. Selama bertahun-tahun, ia dan para tetangga harus membeli air bersih dari mobil tengki dengan harga yang cukup mahal, antara 150.000 hingga 200.000 rupiah per tangki. Jika uang sedang sulit, mereka terpaksa patungan dengan beberapa keluarga lain agar bisa membeli air bersama. Kondisi ini membuat kehidupan sehari-hari terasa begitu sulit, terutama saat musim kemarau tiba.
Namun, segalanya mulai berubah ketika Wahana Visi Indonesia membangun sumur bor dan memasang sambungan pipa air ke dusunnya. Kini, Bibiana dan warga dusun lainnya bisa mengambil air bersih langsung dari keran umum yang tersedia di dekat rumah mereka. Tidak ada lagi kekhawatiran tentang kekurangan air atau harus mengumpulkan uang untuk membeli air tengki. Bibiana merasa sangat bangga dan bersyukur atas perubahan besar ini.
Dengan ketersediaan air bersih yang melimpah, Bibiana mulai merencanakan hal-hal baru untuk keluarganya. Ia berencana membuat bedengan sayur di halaman rumah, memanfaatkan air yang kini mudah didapat, terutama saat musim kemarau. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, air bersih ini juga membuka peluang bagi warga untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan memperbaiki gizi anak-anak mereka.
Perubahan ini membawa harapan baru bagi Bibiana dan seluruh warga dusun. Mereka tidak hanya mendapatkan akses air bersih, tetapi juga kesempatan untuk hidup lebih sehat dan sejahtera. Bibiana kini bisa melihat masa depan yang lebih cerah untuk anak-anaknya, berkat adanya air bersih yang mudah dijangkau setiap hari.